RSS

pesan untukmu

lampu-lampu berhenti berpendar, ketika rintik hujan mencipta irama ritmis. angin malam menari, liukannya menembusi rongga kulit. perempuan kecil berjingkat diantara genangan. menengadah, mencecap rintik.

kenapa terasa terasa pahit? diludahkannya air langit. bukan. bukan itu yang dilakukannya.

ia lebih suka menelannya. karena ia tlah terlanjur jatuh hati pada rintik, angin, dan aroma hujan. memberinya kebahagiaan tersendiri, meski kadangkala terasa pahit.

“pahit ketika kukecap. tapi ketika kutelan, ada warna-warni perasaan menggantung didada. riang dan rindu, serta lega tlah menemukannya,” ujar si perempuan kecil.

entah kenapa, kulihat sebersit sendu di ujung matanya.

****
23 februari 2011.
kukirimkan beberapa rangkai kata kepadamu, yang tiba2 berlompatan di kepalaku, saat gerimis kecil dan mati lampu. namun hingga lampu itu kembali berpendar, kau tak jua membalas pesanku.

 
2 Comments

Posted by pada 28 Februari 2011 in Tak Berkategori

 

pengamat punggung (part 2)

ini sebuah catatan sederhana. teringat di suatu pagi, ketika aku telah tertinggal lembab embun. aku menemukan sebuah tulisan berjudul ‘pengamat punggung’. ditulis oleh seorang perempuan yang tak begitu kukenal. tulisannya berserak begitu saja di tumpukan kertas catatan kuliah milikku. kubaca sekilas, dan aku terhanyut.

tulisan itu berkisah tentang seorang perempuan pembaca punggung. baginya punggung tiap manusia adalah sebuah kitab terbuka yang bisa dibaca sewaktu-waktu. aku terhenyak, mungkinkah ada hal yang sedemikian rupa? melihat punggung sebagai sebuah kitab berisi perjalanan dan cerita. aku tak pernah bisa memahami, bagaimana bisa sebuah punggung, membuat semacam perasaan memabukkan? kulihat itu sebagai cerita imajinasi belaka.

namun entah kenapa, semenjak itu, aku jadi suka mengamati punggung-punggung yang berlalu lalang di hadapku. berharap menemukan sesuatu, apapun itu. hingga aku bertemu dengannya. sebuah punggung biasa. namun ada semacam magnet kasat mata, yang membuatku terus menatapnya. punggung tegap, yang terbungkus kaos oblong hitam. milik seorang laki-laki pendiam, yang kadangkala bersikap kikuk.

kuteliti punggungnya. tak kutemukan apapun. tak ada keistimewaan. tak ada cerita. namun bukan berarti kenihilan. justru kekosongan itu, memberi semacam kesenyapan yang membungkus perasaanku.

“aku dulu adalah seorang pengembara.” kata si pemilik punggung. kami tengah berbagi cerita, di bawah hujan deras di suatu sore. ini pengalaman pertamaku berbincang dengannya. senyumnya yang kikuk, menerobos rintik hujan kala itu. menerawang sebuah masa, beberapa tahun silam.

ini sebuah keadaan, dimana kami dipaksa secara tak sengaja untuk berbincang. di depan halaman toko yang telah tutup. menanti hujan reda, dalam sore yang gelap. hanya kami berdua. inilah pertama kalinya aku leluasa menatap lekuk wajahnya. ada beberapa percikan air hujan mengalir di dagu dan sudut matanya. tubuhnya terbungkus jas hujan yang telah basah. menahan sementara, helaan angin yang memberangus.

aku mengingat percakapan singkat sore itu ketika kutatap punggungnya pagi ini. lagi, hanya terbungkus kaos hitam berbahan katun. garis punggungnya, mengajak serta mataku untuk mengikuti alirannya lekat-lekat. dia adalah seorang pejuang kehidupan, batinku. itulah yang kudapat dari pengembaraan imajiku atas punggungnya.

“aku telah melintasi berbagai jalan dalam hidup ini. lakuku bermetamorfosis sesuai zaman. aku pernah menjadi kupu-kupu, katak, hingga kecoa sekalipun.”
kuingat kalimat ini muncul pula sore itu.

punggungnya lelah. aku merasakan itu. dia butuh bersandar sesekali waktu. terlalu lama, punggung tegapnya berdiri sendiri. dia menyadarinya. namun selalu dikuatkan punggungnya untuk tidak mengeluh. ia menutupinya sebagai sebuah kelelahan fisik belaka.

“punggungku pegal.” ujarnya dengan nada datar. senyum tersungging perlahan, lalu berbalik badan.

sangat ingin kusentuh punggungnya. memberi sedikit pijatan untuk melepas lelahnya. butuh waktu lama untuk menghimpun keberanian.  keberanian dan hasrat adalah suatu yang berbeda. kuingin keberanian ini, bebas dari sebuah hasrat. keberanian murni, tanpa bias kepentingan.

namun entah, sebuah daya lain membuat tanganku nekat melayang ke bahunya. memberi pijatan kecil pada bahunya. dia tersenyum. dengan kikuk, dia memiringkan kepala, memandangku sekilas. ada sebuah pertanyaan, namun urung dilayangkan. yang ada hanya sebuah gumaman, yang tak kumengerti.

begitu saja. kusentuh punggungnya dalam bentuk pijatan. dia menikmatinya. tak mengeluarkan nada protes. justru kenyamanan, yang tergambar dari sikapnya. begitu pula aku, seperti merasakan kenyamanan yang sama. memijat, bagiku adalah transfer energi. menelusuri kelelahan, yang menciptakan rongga dalam tubuh. pijatan mengisi rongga tersebut, dengan sebuah energi yang ditiupkan khusus oleh sang pemijat. namun, tak selamanya energi dan rongga bisa bertemu tanpa kontradiksi.

sebuah energi harus diciptakan khusus untuk tiap rongga yang berbeda. tidak pernah ada aliran energi yang sama. itulah pijatan. serupa sebuah permainan atas rasa. membingkai kenyamanan, yang kadangkala melengahkan.

merasakan punggungnya dalam genggaman tanganku, memberi perasaan antah berantah. awalnya, kuandaikan pijatan ini akan melepas lelahnya, membuatnya bisa bersandar sebentar padaku. namun justru sebaliknya, aku merasa akulah yang tengah bersandar. aku larut dalam lautan punggungnya yang berbuih lembut. mencipta ruang rupa-rupa warna. seakan kubisa rasakan perasaan si pemilik punggung.

“aku pernah jatuh. berada di ambang batas bawah, bertahun-tahun lamanya. hingga aku bisa berdiri disini. sebuah pengembaraan, bukannya tanpa resiko. aku tenggelam dalam lautan yang kuciptakan sendiri.”
teringat ku pada perbincangan kala hujan sore.

dia melalui beragam proses penempaan. tak banyak yang diceritakannya padaku. namun aku mengerti garis-garis yang tengah diukirnya di atas tanah kehidupan. kami berbeda generasi. berbeda pengalaman. inilah yang mungkin membuatku tak pantas sebagai tempatnya bersandar. akulah yang tengah menggantungkan diriku sejenak, dalam sebuah pijatan.

dia memandangku sekilas, sambil memuji aku pintar memijat. aku tersipu. mengeluarkan binar pada mata yang tak seharusnya. aku masih saja memijat. berusaha mengisi rongga-rongga yang memunculkan keropos dimana-mana. sudah seharusnya aku menjadi subjek, namun ada sebuah paradoks. akulah si objek, yang teramat menikmati proses sebuah pijatan. aku menelusuri punggungnya, layaknya labirin puluhan pintu berwujud kumpulan perasaan. aku terhanyut, menyesap aroma kehangatan yang keluar dari punggungnya. merubah kenyamanan menjadi halusinasi sebuah kepemilikan. pikiranku melayang, meminta lebih dari sebuah pijatan, menjadi pelukan.

disinilah, kemudian aku harus mengakhirinya. tak bisa aku terlampau jauh. kutepukkan tanganku pelan pada punggungnya, dan berkata ‘sudah selesai’.

lagi, dia tersenyum. kali ini tanpa kekikukan. aku tersenyum. dia mengajakku berbincang sebentar, sambil memuji pijatanku dengan tulus. kembali, mataku mengeluarkan binar yang tak seharusnya.

inilah, kemudian membuatku percaya pada si perempuan pengamat punggung. benar katanya, punggung bisa amat memabukkan. namun, aku memang belum sehandal dirinya, memaknai punggung sebagai kitab terbuka. cerita kehidupan kutemukan bukan dari punggungnya. namun dari si pemilik punggung. melalui sebuah perbincangan dalam hujan.

dan, punggung, bagiku lebih seperti sebuah lautan. yang kadangkala menenggelamkan pada ruang yang sulit dipahami artinya.

****
11 september 2010.
terima kasih untuk seorang teman, yang telah meminjamkan punggungnya untuk kutelusuri.

kubuatkan cerita ini untukmu, melalui ragam proses dramatisasi.

hohohoho! :D

 
3 Comments

Posted by pada 5 Oktober 2010 in Tak Berkategori

 

most wanted: curug kalikidang!

setengah 12 siang. jelas, bukan waktu yang tepat untuk naik bukit. namun, inilah yang aku lakukan bersama seorang teman. naik bukit di daerah bernama Mandirancan, dalam rangka mencari sebuah curug bernama Kalikidang. awal perjalanan, langsung kami temui sebuah tanjakan. tak cukup terjal memang, tapi layaknya sebuah shock therapy di awal yang mengendurkan semangat. tanjakan ini sudah pernah kulalui, sebelumnya. bersama dua orang teman, Rahmi dan Hanie (dalam ekspedisi sok tahu yang sama). saat itu, Rahmi yang kehabisan napas. dia pucat pasi, berkeringat dingin, dan meminta berhenti sejenak. belum sarapan, hingga suren (sangat lapar) katanya. sejak perjalanan itu, aku dan Hanie sering menggoda Rahmi soal tragedi suren dan ketidakmampuannya mendaki.

namun memang benar, karma bisa terjadi kapan saja. tanpa dinyana. aih, sebuah perjalanan kemarin, mungkin sebagai titik balas atas sikapku yang suka menggoda Rahmi. aku merasakan apa yang Rahmi rasakan. pada tanjakan awal, aku langsung kehabisan napas. sinar mentari seakan galak merongrong kepalaku. tiba-tiba saja, pandangan mataku menjadi kabur dan menguning. benar, aku memang belum sarapan. dan bodohnya, aku tak membawa air minum setetespun.

teman seperjalananku, Afit, sudah berjalan terus menanjak. aku berteriak, melambaikan bendera putih, tanda meminta rehat sejenak. rasanya dunia ini tengah bergerak limbung, dan penuh bayang-bayang. aku pun duduk, tak peduli dengan nasehat Afit untuk tetap istirahat dengan berdiri. saat itu, aku benar-benar ngeyel. tak mau mengatur napas, lalu nyerocos tak tentu arah. cerocosanku sebenarnya kuniatkan untuk membangun semangat. namun yang ada, malah menguras energi.

perjalanan ini, kami niatkan untuk survey sebuah outbound bersama antara anak-anak Padang Ilalang dan sanggar Samiaji akhir bulan ini. jadi meski napasku tercekat dan jalanku sempoyongan, harus kuteruskan perjalanan ini. Afit harus terus bersabar bersama teman seperjalanan yang selalu meminta berhenti beberapa menit sekali. jalanan tak lagi menanjak, namun aku sudah terlanjur kehilangan kendali. ketika langkah diteruskan, selalu pandanganku menjadi kabur dan penuh bayang-bayang berwarna kuning.

di tengah jalan, kami bertemu dengan seorang bapak, penduduk asli Mandirancan. kami memang belum tahu jalan ke arah curug Kali Kidang. dan beruntung, sang bapak bersedia untuk mengantar kami sampai kesana. namun, lagi-lagi, tubuhku berteriak, meronta meminta istirahat. kuteriakkan pada Afit untuk meneruskan saja perjalanan ini tanpaku. nanti aku menyusul, ujarku. tapi Afit tak mau. akhirnya kesempatan untuk diantar sang bapak, kami lepas begitu saja. ah, saat itu, aku merasa begitu lemah! namun apa daya. aku pun menghempaskan tubuhkan ke rerumputan. berusaha mengatur napas dan menghimpun segala energi yang tersisa.

sambil menungguku, Afit memilin ilalang dan rerumputan. kutebak dia sedang membuat mahkota. membuat mahkota dari dedauan, rumput, atau ilalang, laiknya sebuah keterampilan khas masa kecil. dari situlah, akhirnya kami berbincang tentang masa ketika menjadi anak-anak dulu. berbagi cerita soal hobi dan kebiasaan masing-masing. ah, masa kecil, buatku selalu tampak nikmat untuk dikenang. masa penuh rasa kebebasan, ingin tahu, dan tanpa beban kehidupan. ketika, melihat dunia ini dengan lebih jujur dan polos. semakin beranjak dewasa, rasa itu seakan memudar. menjadi lebih banyak tahu tentang dunia, membuat orang dewasa sok tahu. kehilangan kepekaan dan rasa ingin tahu. di mata orang dewasa kebanyakan, dunia ini menjadi terlampau biasa.

aku terus saja nyerocos tak karuan, dengan pikiran melayang kemana-mana. perutku sudah melilit, minta diisi, dan tenggorokan pun sudah kering kerontang. hanya bisa mencecap air ludah yang sepat rasanya. meski begitu, aku seakan mendapat suntikan energi dari perbincangan masa kecil, hingga kembali semangat untuk melanjutkan perjalanan.


feeling alias kekuatan intuisi menjadi andalan untuk menentukan jalan setapak mana yang akan dilalui. lama-kelamaan jalan semakin menanjak. sungai sudah nampak di bawah tanah melandai. namun belum tampak jua sebuah air terjun yang kami cari. napasku kembali naik turun tak jelas. keringat dingin merembes membasahi tangan. jelas, melihat track yang makin menanjak, membuat pertahanan semangatku rapuh. seakan perjalanan ini tak akan pernah usai. ini membuatku merasa diriku begitu menyebalkan, khususnya bagi Afit. menghambat perjalananan dengan terus meminta berhenti sesekali, mengeluarkan ceracauan yang memusingkan, serta keluhan yang berisik.

naik gunung bisa untuk melatih mental kehidupan, ujar Afit. jangan selalu melihat ke arah yang paling atas. membuat seakan makin jauh dijangkau, dan melupakan step-step yang harus dilalui sebelumnya. tapi lihatlah ke depan, secara perlahan. kurang lebih itu kalimat yang dikeluarkannya.

hahay, cukup mengena memang. namun saat itu, aku hanya bisa mengangguk-angguk tanda setuju. tak ada tenaga, untuk menimpali. kini, kekuatan mulutku sudah mengendur. tak lagi banyak bicara. ketika jalan masih terus menanjak, kami pun mulai berpikir tempat ini tak cocok untuk outbound anak-anak. rasanya kasihan, kalau anak-anak harus melewati medan seperti ini. jalan setapaknya pun ada beberapa yang tak aman, karena dekat dengan jurang. akhirnya kami pun memutuskan, tempat ini tidak akan kami gunakan untuk outbond.

sudah 2 jam kami berjalan. kini sudah berada hampir di puncak bukit. melihat langit yang penuh awan berserakan. pepohonan pinus di kanan kiri. dan dataran yang lebih rendah, menghijau dengan kelebatan rumah-rumah mungil. aku menghela napas lega. menikmati alam yang tampak bersahabat. tapi ini tak berlangsung lama. sesekali terdengar suara gemuruh. gelap pun mulai tampak di kejauhan.

pulang. inilah yang diputuskan. meski belum menemui air terjun yang biasa disebut curug kalikidang. aku menuruni bukit dalam diam. dengan langkah kaki sedikit bergegas, karena gerimis telah mampir ke bumi. tak ada lagi keinginan untuk berbicara. ketika Afit berkata-kata, hanya kutanggapi dengan lambaian atau acungan jempol. energi ceracauku seakan luruh diterkam gerimis. dua kali sudah, aku mencari curug kalikidang, tapi lagi-lagi tak ditemukan. ah!

sesampai di rumah teman dimana motor dititipkan, tahulah aku bahwa kami salah jalan. “harusnya nggak nanjak terus, belok kanan, susur sungai. kalau nanjak, berarti kalian nyasar ke gunung pelok!” tandas teman, si pemilik rumah. “lagian, kalian ke gunung siang-siang gini. cari mati namanya!”. aku dan Afit hanya cengengesan. sambil menikmati segelas air berwarna kuning segar yang dihidangkan. meski tak menemukan curug kalikidang, entah kenapa tak ada perasaan menyesal. bagiku ini sebuah petualangan. walau dilalui dengan jalan sempoyongan, tapi aku menemui rupa-rupa cerita yang bisa kubawa pulang.
****
14 september 2010.
dicari! curug kalikidang! sepertinya, aku harus menyiapkan perjalanan ketiga, untuk menemukannya! hehehehe. ^_^

 
Leave a comment

Posted by pada 5 Oktober 2010 in Tak Berkategori

 

.ketika tubuh meronta.

Hari mulai larut. Seperti hari sebelumnya, kepalaku terasa berat. Selalu ketika waktu magrib tiba. Seakan ada angin dingin, menyesap ke dalam kulit, membuatku menggigil seketika. Leher pun terasa kaku. Semangat pun seketika hilang, ditelan kekacauan kondisi tubuh.

Gejala tifus, itu hasil analisisku dengan seorang teman, yang punya keadaan yang sama. Kami merasakan kekacauan ini, setiap senja tiba. Mungkin ini akibat dari timbunan aktivitas kami yang padat merayap, akhir-akhir ini. Minim istirahat, hingga lupa makan.

Inilah kebiasaan burukku. Berlindung di balik rutinitas, dan melupakan kesehatan.Tubuh bukanlah robot yang bisa dipekerjakan secara serampangan. Dia bisa saja diam. Namun takkan lama. Jika terus dilupakan, ia akan meronta akhirnya. Jangan sampai kau temukan dia telah keropos, tergerogoti oleh ketidak pedulian pemiliknya.

Maafkan aku sayang, hanya sebentar aku menjadi tak peduli padamu.

Hanya sebentar, tubuhku sayang.

****

menikmati sepotong senja, dengan tubuh menggigil, dan perut yang hanya terisi mie instan sedari pagi.

berhenti.  menyiksa tubuhku sendiri. ucapku pelan.

****

1 oktober 2010

 
2 Comments

Posted by pada 1 Oktober 2010 in catatan kecil

 

.imaji dini hari.

Tik.tok.tik.tok. Jam dinding di kamarnya tak berhenti berdetak. Kamarnya berantakan. Pintu dan jendela tertutup. Gelap dan lembab. Tak disangka ada manusia bertahan hidup di dalamnya. Wajahnya pucat. Terbujur lemas di atas kasur tipis berkutu. Matanya sayu, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Hasil dari begadang tujuh hari tujuh malam.

Dramatis, memang. Dia tak bisa tidur. Insomnia, katanya. Obat tidur telah ditelannya, namun tak berhasil. Paling lama setengah jam dirinya tertidur. Menghitung domba, dilakoninya tiap malam.Nihil hasilnya. Hingga jutaan domba, tapi matanya tak jua mengantuk.

Penyakit ini dideranya seminggu yang lalu. Tak banyak yang tahu apa penyebabnya. Tapi dari mulutnya berkoar dia menderita penyakit kesendirian akut. Tak punya siapapun untuk berbagi. Untuk diajak mengerti, memahami, atau bahkan mendengarnya. Terpuruk dalam jurang kesepian, itu yang dialaminya kini. Ah, malang benar.

Malam kedelapan. Kembali dijalaninya ritual menghitung domba. Pikirannya melayang ke binatang berbulu gimbal, yang tengah berlarian di padang rumput. Hingga hitungan enam ribu empat ratus lima, pikirannya bertemu dengan domba berwarna merah muda. Aih, mirip babi, tapi berbulu gimbal. Aneh benar!

Dia tertawa. Dipegangi perutnya, yang geli setengah mati. Tak dinyana, si domba melotot ke arahnya. Tak hanya melotot, si domba juga berteriak memarahinya. Kaget bukan main, rasanya.

Dialihkan pandangannya pada jam dinding yang menunjuk pukul dua pagi. Tapi ternyata si domba tak mau pergi. Justru semakin nyata. Kini si domba muncul di hadapannya. Bahkan bulu domba menyentuh ujung kakinya.

Ini nyata. Ada domba di kamarku, ujarnya. Dikerjap-kerjapkan matanya, domba masih ada. Diacak-acak mukanya, domba masih ada. Ditarik rambutnya, dipijit keningnya, hingga dibentur-benturkan kepalanya, domba juga masih ada.

Frustasi setengah mati, diajaknya domba berbicara. Ternyata bisa! Domba paham masalah ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, bahkan kepariwisataan. Menakjubkan! Ketika ditanya soal gosip selebritis pun, si domba menguasai. aih…domba macam apa ini?

Tak masalah, ini domba jenis apa. Yang jelas, aku tak lagi sendiri, pikirnya. Ada domba untuk berbagi cerita. Menganalisis masalah, hingga mencari solusi, didiskusikan di malam-malam selanjutnya. Tak jarang, diselingi mengerjakan soal matematika dan merancang rumus-rumus kimia.
***
Aku terpaku. Aneh benar pikiranku malam ini. Bertemu dengan domba yang bisa bicara. Ah, sendiri kala malam, kadang membuat pikiranku melayang tak jelas. Imaji gila berkeliaran. Ngalor-ngidul. Tercipta suara, sahut-menyahut. Suaraku sendiri.

Namun inilah kebebasan. Pikiranku bebas mengembara. Tanpa dibatasi norma dan aturan kehidupan. Kunamai ini hasrat kreatifitas. Kusalurkan hasratku, hingga tercipta sesuatu.

Pagi menjelang. Kudapati lukisan padang rumput. Dan setumpukan kertas. Kubaca. Ternyata tulisanku. Soal manusia insomnia yang bertemu domba. Aku tertawa. Aku berkarya!

****
(ini sebuah tulisan lama. bahkan aku lupa pernah menulisnya. tulisan ini kupersembahkan untuk media cengloe. kutemukan lagi, ketika membuka blog cengloe. entah kenapa, aku mempublikasikan di blogku sendiri.
sebuah tulisan yang sempat kulupakan, namun kembali menarik hatiku. hehehe)
 
Leave a comment

Posted by pada 30 September 2010 in celoteh senja

 

fiksimini.

Aku baru saja membaca kumpulan fiksi mini dalam blog agus noor.

Begitu memikat.

Inilah dua fiksi mini yang mencampuradukkan perasaan:

Hari Paling Indah dalam Hidup Sepasang Suami Istri

Keduanya duduk di beranda, menikmati teh hangat, memandang senja yang bagai usia perkawinan mereka. “Ceritakan kisah paling lucu dalam hidupmu,” kata si istri.

“Ialah ketika aku membunuhmu,” jawab si suami.

Mereka pun tertawa.

Ulat dalam Kepala

Bocah itu begitu iba pada adiknya yang bertahun-tahun terbaring sakit dengan kepala yang makin membengkak. “Seperti ada ribuan ulat di otakku,” keluh adiknya selalu. Suatu hari bocah itu melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya.

Tengah malam, diam-diam, ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.

***

fiksi mini milik agus noor, dalam benakku merupakan campuran dari rasa tragis, kegetiran, amarah, dan kebahagiaan. membuat imaji ini terbuai dalam dunia yang agus noor ciptakan. terkadang membuatku terlampau larut.

***

Dia mencintai matanya yang indah. Hijau zamrud, yang sesekali mengkilat. Dia tersedak. Karena menelan bola mata, yang terlalu dicintainya.

ini fiksi mini buatanku. haha. masih aneh.

 
Leave a comment

Posted by pada 6 Juli 2010 in Tak Berkategori

 

.candu asmara.

aduduh..hai..
betapa galau hatiku
jika lama ku tak jumpa denganmu
aduh..haihai..
sungguh nikmat bersamamu
selayaknya insan ketagihan candu

candu. aih, nikmatnya perasaan yang satu ini. punya dinamika. naik turun, dengan menggebu. berputar dengan ritme tak bisa dimengerti. ada gelora yang diselingi kegetiran. ada gairah yang dipertarungkan dengan kesedihan. sungguh tak menentu. ada pula dahaga yang amat dalam. membuat diri terbuai, hingga rela untuk mengais diantara kesepian. memabukkan.
candu. apakah aku terlalu rumit mendefinisikanmu? hingga terlalu banyak kata yang menderu, memangkas kesadaran dan makna, atas dirimu.

akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra
ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
semoga ada waktu, sayangku
ku percaya alam pun berbahasa
ada makna di balik semua pertanda
firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
aku tak peduli
ku terus berlari

setujukah dirimu, jika aku bilang candu selalu bisa mempertajam firasat? mencari titik temu. dengan ujung-ujung yang saling bergesekkan. mengiris. pula membuat peka. sebuah rasa mengharu biru. ada prasangka. berbenturan. tumpah tindih. berhimpitan. mencari sebuah perasaan. yang menelusup dibalik selimut. terlalu tebal. terlalu tipis. itulah yang menentukan.
sadarkah kau, mereka memberi tanda? tapi engkau malah mencari gerak alam, untuk dijadikan kambing hitam. beginilah. aku tak pernah mengerti, ketika kau justru meringkus terang. membiasakan diri dalam kegelapan, lalu berlari. tak peduli.

oh janganlah terjadi, yang selalu kutakutkan
beribu cara kan kutempuh
oh cintaku kumau tetap kamu, yang jadi kekasihku
jangan pernah berubah
slamanya, kan ku jaga dirimu
seperti kapas putih dihatiku
takkan ku buat noda

firasat membuatmu mengucap janji yang tak bisa kau tepati. mulutmu berbusa. aku manut saja, mengikuti irama yang kau ciptakan. perubahan adalah keniscayaan. bagaimana mungkin kau menuntut sebuah kata stagnan, untuk diri seorang manusia?
hidup bagai sebuah bilur-bilur nadi dalam aliran tubuh. bercabang. pula bermuara. ada aturan. kesesuaian. juga kepercayaan bahwa darahmu akan berjumpa pada jantung. bahwa darahmu akan mengalir di sela kerongkongan. bahwa darahmu akan menjenguk kepala, tangan, perut, kaki, apapun. apapun yang ada pada tubuhmu. inilah sebuah janji yang ditepati. janji di luar nalar, atas dasar kepercayaan. inikah yang akan kaulakukan?

dan ku berhenti berharap
akan cintamu yang dulu ada dihati
dan ku coba tuk bertahan
walau berat
kini ku berhenti berharap

berhentilah berharap, sayang. firasatmu salah kali ini.
kau tak bisa menepati janji.
berhentilah berharap, sayang. ini diluar batas kemampuanmu.
meski telah lumpuh karena candu.
*****
.15 juni 2010.
wuidihhh, playlist laguku malam ini benar-benar merasuk.
iseng saja, kubuat sebuah tulisan, dari beberapa lagu milik marcell.
mungkin terkesan rumit dan tanpa makna. tapi entah kenapa aku suka.
sebuah perasaan sederhana, yang enggan kurasionalisasi.
terima kasih, marcell. lembut suaramu, jadi inspirasiku malam ini. hehekkekeke…
lumpuh aku, karena candu. ^_^
hahahaha.

 
2 Comments

Posted by pada 24 Juni 2010 in catatan kecil

 

.mengintip masa lalu.

sucks. mouthfull of poison. wolves. oracle. into the darkness.
ini beberapa judul lagu dari kittie, band emocore, yang tengah kudengar.
lihat saja, dari judulnya saja, terasa gelap dan mencekam.

tengok pula, liriknya.
“believe me, when I say, you sucks!
believe me, when I say, you sucks! oh fuck!
fuck you! you think it’s all funny. fuck you!”
penuh dendam. sarat kegelisahan. penuh makian.

inilah lirik lagu, yang dulu kunyanyikan. beberapa tahun silam. dengan cara nge-grohl hingga suara serak. aku masih ingat, ketika dulu pertama kali latihan. rasanya tak mungkin dari mulutku mengeluarkan suara macam itu. saat itu, vokalis Soulsaver, Azmi dan Reza yang mengajariku (entah mereka masih ingat atau tidak). lalu kutirukan suara mereka, dengan beberapa penahanan diri karena tak percaya diri. beberapa kali, Azmi harus mengeluarkan motivasi, “Ayo, kamu pasti bisa, De!”. alhasil kekeluarkan saja, sepuasnya, tanpa berpikir.

berhasil! awalnya, aku pun kaget dengan bunyi suaraku sendiri. tapi aku cuek saja. sayang, ketika digabungkan dengan musik, amburadul jadinya. tak ada soul, rasanya. beberapa kali Azmi harus memberi contoh, bagaimana menggabungkan jiwanya dengan musik. tapi aku menyerah, buat PR saja, ujarku.

jelas keputusan yang salah. bagaimana bisa aku latihan nge-grohl di rumah? bisa-bisa, dimaki-maki tetangga, karena mengganggu ketertiban umum. tapi apa daya. kututup pintu kamar. kunyalakan tape (jaman dulu masih pake kaset, hehehe). kubungkam mukaku dengan bantal. lalu nge-grohl, tanpa peduli. ketika keluar kamar, harus kutemui muka bapak ibu yang terheran-heran, mendengar anaknya meraung-raung di siang bolong! (wahai bapakibu tercinta, maafkan anakmu yang nakal ini)

tapi untung saja, latihan ini tak sia-sia (salah satu contoh Man Jadda Wajada bukan yah? hoho). band yang dipelopori Mada ini, akhirnya menemukan soulnya. jadilah, band ini dikasih nama Miracle, berisi empat perempuan (aku, Ieca, Molin, Raras) dan satu laki-laki (Mada). siapkan diri, buat manggung pertama di Back to Struggle!, seru Mada.

manggung di acara underground, adalah hal yang baru buatku. awalnya jelas takut. nervous. tapi ternyata main di acara UG lebih asyik dibanding di parade band biasa. para penonton moshing, ngikutin irama musik yang kami mainkan. ada gairah yang tersalurkan. jelas, aku merasa musik kami lebih dihargai disini.


dulu, kami merasa Miracle punya masa depan. manggung beberapa kali, sudah ditawari main di luar kota (Cirebon dan Majenang, dibayar pula!). kami bikin lagu sendiri. dan sempat berencana rekaman, ikut album kompilasi band-band Purwokerto. tapi akhirnya impian musnah sudah. kami menemukan dunia masing-masing. nggak pernah ketemu ataupun latihan. lalu, bubar jalan!
****
ini masih pagi, ketika tiba-tiba aku ingin mendengar lagu milik Kittie. pikiranku melayang pada Miracle, dan jadilah tulisan ini. kangen rasanya, manggung di depan puluhan penonton. yang tak pernah kulupakan, manggung di dalam gedung Soemardjito yang penuh dengan lautan manusia. gedung penuh dengan penonton dari depan sampai belakang, dan mereka mengapresiasi musik kami. menggerakkan tubuh dan kepala seirama ritme yang ditabuh. sungguh, kurasakan atmosfer yang berbeda. puas rasanya.

bermain musik diantara pecinta underground, mau tak mau merubah diriku. sering pake kaos hitam, pake celak di bawah mata, kuku jari diwarnai hitam, pake gelang lancip-lancip, hingga obsesi ditindik di beberapa bagian muka (tapi akhirnya cuma jadi obsesi!).  ah, entah kenapa, kadang aku rindu berpenampilan seperti itu. hehehe.
berkelana ke masa lalu, selalu membuatku tertawa sendiri akhirnya. inilah sebuah proses yang harus kulaui. yang menempa diriku. dan memberiku ribuan pengalaman. terserah orang mau bilang apa. tapi aku bangga dengan apa yang sudah kujalani. setiap manusia mempunyai jalurnya sendiri, untuk menemukan dirinya pada akhirnya.
****

16 Juni 2010
terima kasih untuk ieca, molin, raras, erma, dan mada. sudah meluangkan waktu di masa lalu untuk bermain musik bersama.


terima kasih untuk azmi dan reza (vokalis keren yang selalu menginspirasi), sudah meluangkan waktu di masa lalu untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
entah kapan, kita bisa meluangkan waktu di masa depan, untuk kembali berbagi rasa.
(hoho, rasanya aku lagi melankolis.) ^_^

 
2 Comments

Posted by pada 24 Juni 2010 in Tak Berkategori

 

.pantai.pantai.pantai.

pantai oh pantai….
Rasanya hampir puluhan tahun aku tak menjumpainya (dramatisasi!).

Pasukan sok tahu kembali melakukan ekspedisi. Mencari pantai.
Tercetuslah bunton. Pantai sepi di daerah Adipala. Hanya menempuh perjalanan kurang lebih 1jam dari Purwokerto. Kembali hanya berbekal ingatan beberapa tahun silam, kami mencarinya. Sampailah kami, pada Bunton. Sepi. Apalagi ini memang masih setengah 9 pagi. Matahari tidak sedang mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Hasilnya udara lembut, tanpa terik matahari.

Tapi rasanya ada yang aneh. Benar, kami tak beruntung. Laut sedang pasang. Ombak menggulung tinggi, seperti siap memakan siapa saja. Pantai pun tak bisa dijamah. Dan parahnya sepeda motor kami harus terjerumus dalam kungkungan pasir, hingga tak bisa maju ataupun mundur. Lalu terguyur ombak, karena parkir terlalu dekat pantai. Sekuat tenaga kami bahu membahu. Apa daya, terlampau berat, meski keringat sudah bercucuran.

Untung saja, ada seorang bapak baik hati, yang membantu kami menarik si motor yang tengah terjebak pada jeratan pasir. Dan si bapak bilang, pasang akan berhenti, tapi nanti jam 2 siang! Seketika aku merasa limbung. Ini masih setengah 9, akankah kami menunggu berjam-jam? Tak sanggup rasanya, menyadari mimpi bermain air harus kandas.

Setelah sok menerawang, kami pun sepakat untuk mencari pantai lain. Meski hasil analisis kami, semua pantai selatan jelas sedang pasang. Namun entah kenapa, kami merasa yakin akan menemukannya. Jelas feeling sok tahu kami, punya andil paling besar untuk menentukan arah kami. Tak mau dong, pulang dengan tangan hampa.

Bergeraklah kami menyusuri jalan, entah kemana. Berbekal keyakinan, tekad, dan keteguhan hati (hehe), kami mengikuti penunjuk jalan bertuliskan pantai srandil. Setelah berputar-putar, tak tentu arah. Srandil kami temukan. Tapi bukan pantai. Yang ada adalah sebuah gunung kecil, ditumbuhi bendera warna-warni serta altar. Dengan ucapan, selamat datang para peziarah religius! Seketika kami membatu, sementara puluhan pasang mata menatap kami.

Senyum kaku, kami umbar. Dengan gerak tangkas, kami putar haluan, lalu kabur, tanpa berani menatap ke belakang lagi. Padahal setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya mampir. Melihat seperti apa kawasan wisata religius itu. Ah, bodohnya aku. Tapi itulah salah satu gerak refleks, pertahanan diri manusia. Selalu mengambil langkah seribu, baru berpikir kemudian.

Kami masih semangat untuk mencari pantai lain. Kami masuk kawasan desa wisata karang benda. Aiiih, desanya bersih dan tertata rapi. Jadilah kami berputar-putar. Bolak-balik salah jalan. Hingga masuk ke dalam gang-gang desa. Hmm, sayang, bersih dan rapi hanya milik jalan utama. Jalan di gang, amburadul dan berlubang disana-sini. Jadi, jangan tertipu dengan jalan utama, kawan!

Namun akhirnya sampai jua, pada sebuah pantai. Namanya rahayu, sondong, atau selok. Entah mana yang benar. Setiap orang menyebut nama yang berbeda. Mungkin pula semua benar. Dan, tak sia-sia, pencarian kami. Pantainya, indah nian! Lebih sepi dibanding bunton. Hanya ada kami berempat, dan sepasang muda-mudi yang tengah memadu kasih. Bak film india, mereka berkejar-kejaran di antara deru ombak. Tak lama, mereka telah menjauh, merasa dunianya terganggu dengan kedatangan kami. Hingga pantai pun, hanya milik kami. Oh, senangnya!

Segera saja, aku ganti baju, memakai kaos dan celana pendek. Hehehe, bohong dink. Ini hanya dalam anganku saja. Pantai ini, juga tengah pasang, namun ombaknya tak terlalu besar, sehingga masih bisa dijelajahi. Kuhirup udara yang masih bersahabat. Lalu berteriak. Sekeras-kerasnya! Puas rasanya. Pasir mulai menyentuh kaki telanjangku. Tak sabar, kami pun mulai bermain. Saling jegal, hingga terjatuh. Kami berkubang dalam air asin, hingga pasir menelusup diantara tubuh kami. Diakhiri dengan main bola sepuasnya!

Aku sengaja membawa bola, tapi bodohnya justru tak membawa celana ganti. Alhasil ketika sahabatku yang lain, berganti kostum, aku tetap saja memakai celana panjang berpasir. Dengan membawa kebahagiaan, kami pulang. Ini sebuah pencarian yang menyenangkan. Dan entah kenapa, perjalanan kami, selalu diawali pencarian jalan dengan sok tahu, dan diakhiri dengan kaki-kaki kotor tak berwujud. Jika dulu karena lumpur, kini karena pasir. Satu jam, kami biarkan kaki berselimut pasir, hingga pulang ke rumah.
****
16 Juni 2010.
catt. ayookkk, kawan. kapan-kapan kita kesana lagi!! melepas penat dari segala hingar-bingar dunia. hakkakakkkaka. tapi jangan lupa, ingatkan aku untuk membawa celana ganti yakk. hohoho.

 
1 Comment

Posted by pada 24 Juni 2010 in catatan kecil

 

enam pagi.

ini masih pukul enam pagi. dia sudah siap berangkat sekolah. memakai seragam putih biru, dia berjalan menyusuri pematang sawah. kabut masih menggantung di udara, membuat pandangan mata menjadi samar.

ini masih pukul enam pagi. waktu yang sama, setiap hari dijalaninya pergi ke sekolah di desa sebelah. namun, tak seperti biasanya, dijumpainya dua laki-laki dewasa. menghampirinya dengan deru sepeda motor, memecah telinga.

ini masih pukul enam pagi. ketika si laki-laki turun. membungkam mulutnya. menyeretnya naik dengan paksa. membawanya pergi entah kemana. menindihnya dengan kasar. lalu meninggalkannya di tengah jalan, setelah puas menikmatinya.

ini bukan lagi pukul enam pagi. ketika kesadarannya kembali. matahari telah tinggi di atas kepala. tubuhnya terasa sakit. terserak diantara semak dan selokan. dia tak tahu harus kemana. berdiri dengan limbung. dengan rupa-rupa perasaan yang entah harus dilimpahkan pada siapa. dia pulang. membawa kesedihan. membawa kemarahan. membawa kebencian. membawa pula kehampaan. ****

anak-anak kini tak lagi aman. laki-laki berotak tumpul, dengan nafsu membuncah, kini berkeliaran dengan bebas. siap mencengkeram siapa saja yang ditemui. melampiaskan hasratnya pada mahkluk-makhluk tak berdosa. laki-laki tak berperasaan itu, melenggang entah kemana. sedangkan anak-anak harus mendekam dibalik rasa takut. sementara masyarakat tertekan budaya bisu. lebih memilih perdamaian semu, dibanding perjuangan hak dan keadilan.

****

selamatkan anak-anak dimanapun ia berada. mereka berhak mendapatkan masa kecil yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. bukan ketakutan. bukan kegelisahan. bukankesedihan. bukan pula kehancuran akan masa depan.

****

 
1 Comment

Posted by pada 7 Juni 2010 in celoteh senja

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.