ini sebuah catatan sederhana. teringat di suatu pagi, ketika aku telah tertinggal lembab embun. aku menemukan sebuah tulisan berjudul ‘pengamat punggung’. ditulis oleh seorang perempuan yang tak begitu kukenal. tulisannya berserak begitu saja di tumpukan kertas catatan kuliah milikku. kubaca sekilas, dan aku terhanyut.
tulisan itu berkisah tentang seorang perempuan pembaca punggung. baginya punggung tiap manusia adalah sebuah kitab terbuka yang bisa dibaca sewaktu-waktu. aku terhenyak, mungkinkah ada hal yang sedemikian rupa? melihat punggung sebagai sebuah kitab berisi perjalanan dan cerita. aku tak pernah bisa memahami, bagaimana bisa sebuah punggung, membuat semacam perasaan memabukkan? kulihat itu sebagai cerita imajinasi belaka.
namun entah kenapa, semenjak itu, aku jadi suka mengamati punggung-punggung yang berlalu lalang di hadapku. berharap menemukan sesuatu, apapun itu. hingga aku bertemu dengannya. sebuah punggung biasa. namun ada semacam magnet kasat mata, yang membuatku terus menatapnya. punggung tegap, yang terbungkus kaos oblong hitam. milik seorang laki-laki pendiam, yang kadangkala bersikap kikuk.
kuteliti punggungnya. tak kutemukan apapun. tak ada keistimewaan. tak ada cerita. namun bukan berarti kenihilan. justru kekosongan itu, memberi semacam kesenyapan yang membungkus perasaanku.
“aku dulu adalah seorang pengembara.” kata si pemilik punggung. kami tengah berbagi cerita, di bawah hujan deras di suatu sore. ini pengalaman pertamaku berbincang dengannya. senyumnya yang kikuk, menerobos rintik hujan kala itu. menerawang sebuah masa, beberapa tahun silam.
ini sebuah keadaan, dimana kami dipaksa secara tak sengaja untuk berbincang. di depan halaman toko yang telah tutup. menanti hujan reda, dalam sore yang gelap. hanya kami berdua. inilah pertama kalinya aku leluasa menatap lekuk wajahnya. ada beberapa percikan air hujan mengalir di dagu dan sudut matanya. tubuhnya terbungkus jas hujan yang telah basah. menahan sementara, helaan angin yang memberangus.
aku mengingat percakapan singkat sore itu ketika kutatap punggungnya pagi ini. lagi, hanya terbungkus kaos hitam berbahan katun. garis punggungnya, mengajak serta mataku untuk mengikuti alirannya lekat-lekat. dia adalah seorang pejuang kehidupan, batinku. itulah yang kudapat dari pengembaraan imajiku atas punggungnya.
“aku telah melintasi berbagai jalan dalam hidup ini. lakuku bermetamorfosis sesuai zaman. aku pernah menjadi kupu-kupu, katak, hingga kecoa sekalipun.”
kuingat kalimat ini muncul pula sore itu.
punggungnya lelah. aku merasakan itu. dia butuh bersandar sesekali waktu. terlalu lama, punggung tegapnya berdiri sendiri. dia menyadarinya. namun selalu dikuatkan punggungnya untuk tidak mengeluh. ia menutupinya sebagai sebuah kelelahan fisik belaka.
“punggungku pegal.” ujarnya dengan nada datar. senyum tersungging perlahan, lalu berbalik badan.
sangat ingin kusentuh punggungnya. memberi sedikit pijatan untuk melepas lelahnya. butuh waktu lama untuk menghimpun keberanian. keberanian dan hasrat adalah suatu yang berbeda. kuingin keberanian ini, bebas dari sebuah hasrat. keberanian murni, tanpa bias kepentingan.
namun entah, sebuah daya lain membuat tanganku nekat melayang ke bahunya. memberi pijatan kecil pada bahunya. dia tersenyum. dengan kikuk, dia memiringkan kepala, memandangku sekilas. ada sebuah pertanyaan, namun urung dilayangkan. yang ada hanya sebuah gumaman, yang tak kumengerti.
begitu saja. kusentuh punggungnya dalam bentuk pijatan. dia menikmatinya. tak mengeluarkan nada protes. justru kenyamanan, yang tergambar dari sikapnya. begitu pula aku, seperti merasakan kenyamanan yang sama. memijat, bagiku adalah transfer energi. menelusuri kelelahan, yang menciptakan rongga dalam tubuh. pijatan mengisi rongga tersebut, dengan sebuah energi yang ditiupkan khusus oleh sang pemijat. namun, tak selamanya energi dan rongga bisa bertemu tanpa kontradiksi.
sebuah energi harus diciptakan khusus untuk tiap rongga yang berbeda. tidak pernah ada aliran energi yang sama. itulah pijatan. serupa sebuah permainan atas rasa. membingkai kenyamanan, yang kadangkala melengahkan.
merasakan punggungnya dalam genggaman tanganku, memberi perasaan antah berantah. awalnya, kuandaikan pijatan ini akan melepas lelahnya, membuatnya bisa bersandar sebentar padaku. namun justru sebaliknya, aku merasa akulah yang tengah bersandar. aku larut dalam lautan punggungnya yang berbuih lembut. mencipta ruang rupa-rupa warna. seakan kubisa rasakan perasaan si pemilik punggung.
“aku pernah jatuh. berada di ambang batas bawah, bertahun-tahun lamanya. hingga aku bisa berdiri disini. sebuah pengembaraan, bukannya tanpa resiko. aku tenggelam dalam lautan yang kuciptakan sendiri.”
teringat ku pada perbincangan kala hujan sore.
dia melalui beragam proses penempaan. tak banyak yang diceritakannya padaku. namun aku mengerti garis-garis yang tengah diukirnya di atas tanah kehidupan. kami berbeda generasi. berbeda pengalaman. inilah yang mungkin membuatku tak pantas sebagai tempatnya bersandar. akulah yang tengah menggantungkan diriku sejenak, dalam sebuah pijatan.
dia memandangku sekilas, sambil memuji aku pintar memijat. aku tersipu. mengeluarkan binar pada mata yang tak seharusnya. aku masih saja memijat. berusaha mengisi rongga-rongga yang memunculkan keropos dimana-mana. sudah seharusnya aku menjadi subjek, namun ada sebuah paradoks. akulah si objek, yang teramat menikmati proses sebuah pijatan. aku menelusuri punggungnya, layaknya labirin puluhan pintu berwujud kumpulan perasaan. aku terhanyut, menyesap aroma kehangatan yang keluar dari punggungnya. merubah kenyamanan menjadi halusinasi sebuah kepemilikan. pikiranku melayang, meminta lebih dari sebuah pijatan, menjadi pelukan.
disinilah, kemudian aku harus mengakhirinya. tak bisa aku terlampau jauh. kutepukkan tanganku pelan pada punggungnya, dan berkata ‘sudah selesai’.
lagi, dia tersenyum. kali ini tanpa kekikukan. aku tersenyum. dia mengajakku berbincang sebentar, sambil memuji pijatanku dengan tulus. kembali, mataku mengeluarkan binar yang tak seharusnya.
inilah, kemudian membuatku percaya pada si perempuan pengamat punggung. benar katanya, punggung bisa amat memabukkan. namun, aku memang belum sehandal dirinya, memaknai punggung sebagai kitab terbuka. cerita kehidupan kutemukan bukan dari punggungnya. namun dari si pemilik punggung. melalui sebuah perbincangan dalam hujan.
dan, punggung, bagiku lebih seperti sebuah lautan. yang kadangkala menenggelamkan pada ruang yang sulit dipahami artinya.
****
11 september 2010.
terima kasih untuk seorang teman, yang telah meminjamkan punggungnya untuk kutelusuri.
kubuatkan cerita ini untukmu, melalui ragam proses dramatisasi.
hohohoho!